Sang Pencari Tuhan
Oleh: Sigit Winarso
Teng...teng...teng...!.Suara
lonceng jam dinding mengagetkan aku yang sedang tidur di sofa ruang tamu. Aku
memang sengaja mengaturnya agar dapat bangun tengah malam. Dengan hati – hati,
aku membuka pintu kamar istriku, kulihat dia
yang sedang tidur pulas. Aku berpikir kalau rencanaku untuk membuka
kitab istriku akan berhasil. Arum dan aku baru dua bulan menikah, kami bertemu
di pondok pesantren Al-Hikmah yang merupakan salah satu sasaran gereja. Dia
adalah seorang muslim yang teguh pendiriannya, karena itu aku masih
mencari-cari taktik yang tepat untuk membujuknya agar memeluk agama kristen.
Biasanya saat tengah malam begini, istriku akan bangun dan mencuci tangan di
kamar mandi. Anehnya, walaupun hanya mencuci tangan, wajah dan kakinya pun ikut
dibasahi. Baru setelah itu, dia akan mengerjakan ibadah dan bertemu dengan
Tuhannya. Sebelum rahasiaku terbongkar, Arum selalu mengajakku untuk ibadah
juga.
“Bang, bangun Bang, kita sholat
tahajud bersama –sama. Rum perhatikan sejak kita menikah, Abang tidak pernah
melakukan sholat malam”.
“ Maafin Abang Rum, abang cuma merasa
lelah jadi nggak pernah bisa bangun malam. Terima kasih ya Rum, Rum sudah bangunin
Abang.
“Sama-sama Bang, itu sudah menjadi
tugas Rum untuk mengingatkan Abang. Kalau begitu, Rum tunggu di ruang sholat ya
Bang”.
“ Ya Rum. Abang mau ke kamar mandi
sebentar, setelah itu Abang akan sholat bersama Rum”.
Malam
itu sebenarnya bukan pertama kali aku mengerjakan ibadahya orang islam. Aku
pernah berkali-kali melakukannya di pondok pesantren. Namun ini pertama kalinya
aku merasakan keanehan yang muncul dalam hatiku. Entah mengapa aku merasa tentram dan damai saat sholat
dengan istriku.
Aku
memang membohongi Rum soal keyakinan yang kupegang ketika kami pertama bertemu.
Aku bahkan harus menyamar menjadi mualaf di pondok pesantren selama berbulan-
bulan untuk meyakinkan dia bahwa aku adalah calon suami yang baik untuknya.
Selain itu penyamaran ini juga bertujuan untuk mencari –cari kelemahan Islam. Sayangnya,
kini Arum telah mengetahui semua itu. Tapi sepertinya ada yang aneh pada diri
Arum. Walaupun ia mengetahui bahwa aku telah menipunya, tetap saja ia
memperlakukanku sebagai suaminya dan mengerjakan tugas ibu rumah tangga dengan
telaten. Dia juga tidak mengadu kepada Pak Kyai, ayahnya tentang semua ini. Aku
akui bahwa hal inilah yang membuatku tidak tega untuk memaksanya untuk keluar
dari agamanya. Namun bagaimanapun, kebenaran harus ditegakkan.
Suara burung hantu yang bernyanyi memecahkan
keheningan malam. Di luar, angin bertiup dengan kencangnya. Arum sudah dari
tadi kembali ke kamarnya. Aku mengendap-endap menuju ruang tempat dia biasa
beribadah. Ku lihat buku- buku agama yang tertata rapi di lemari buku. Diantara
kitab-kitab itu, ada satu kitab yang mencuri perhatianku. Aku pun mengambilnya
dan membawanya ke kamarku.
Buku
ini bertuliskan arab, hurufnya sangat indah. Mungkin buku inilah yang oleh para
pemeluk Islam disebut Kitab Al-Quran. Aku pun mulai mempelajarinya dengan
harapan akan mengetahui kekurangannya sehingga Islam dapat ditaklukan. Sebagai
seorang yang berpengaruh di gereja, aku memang telah dilatih tentang seluruh
hal yang berkaitan dengan islam. Oleh sebab itu, dengan mudahnya aku dapat
membaca kita berbahasa arab ini. Aku pun membacanya, ada keanehan yang
kurasakan ketika itu. Hatiku seperti memberontak dengan apa yang akan kulakukan
terhadap Islam. Entah mengapa, hati kecilku mengatakan bahwa Al-Quran ini
benar. Aku pun terbayang dengan kata-kata yang dilontarkan istriku ketika ia
marah waktu itu.
“Bang, Abang bilang dengan Rum kalau
Abang sangat mencintai Rum. Mengapa Abang tega melakukan ini kepada keluarga
Rum.Abang sudah berdusta kepada kami tentang keyakinan Abang”.
Saat
itu aku sangat kaget setengah mati. Seperti anak kecil yang mendengar suara
guntur. Siapa yang memberitahu Rum tentang semua ini. Aku mulai berpikir bahwa
rencana besarku akan gagal dan Rum pasti akan mengadukanku kepada ayahnya. Tapi
jauh dilubuk hatiku, aku memang sangat mencintai istriku. Aku masih ingin
mempertahankan Rum.
“Rum, maafkan abang ya Rum. Abang
tidak bermaksud untuk membohongi keluarga Rum. Abang hanya berpikir, kalau
Abang berkata jujur soal keyakinan Abang. Abang yakin kalau ayah Rum tidak akan merestui hubungan
Rum dengan Abang”.
“Bang, perlu Abang ketahui. Ayahku
memang tidak akan merestui hubungan Rum dengan Abang. Karena di dalam islam,
suami adalah pemimpin dan ayah Rum tidak menginginkan Rum dipimpin oleh seorang
nonmuslim.Tapi ayahku tidak egois, Ia tidak pernah memaksakan kehendak kepada
siapa pun. Termasuk soal keyakinan. Islam tidak pernah memaksa, Islam hanya
menerima orang yang ingin memeluknya secara ikhlas dan tanpa paksaan dari siapa
pun”.
Setelah
kejadian itu, kukira Rum akan mengadukanku kepada keluarganya. Namun setelah
satu bulan, Rum tidak juga mengadukanku. Aku sangat kagum dengan Rum. Sampai saat ini,kata-kata istriku itu masih
kuingat dengan jelas. Islam tidak pernah memaksa orang untuk memelukanya.
Berbeda dengan ajaran dalam Al-kitab, jelas sekali ada suatu perintah untuk
mengkristenkan penganut agama lain. Aku tak tahu mengapa perasaanku menjadi
sangat bimbang saat itu. Namun perasaanku itu segera ku tepis, aku sudah
bertekad untuk mengkristenkan istriku.
Hari
masih pagi, langit sangat cerah dan matahari begitu hangatnya.Seperti biasanya,
Arum menyiapkan sarapan untukku sebelum pergi mengajar. Namun tampaknya ada
sesuatu yang ingin ia bicarakan denganku. Aku pun menunggunya untuk berbicara.
Tak lama kemudian, ia pun mulai berbicara kepadaku.
“Bang,
ada sesuatu yang ingin Rum bicarakan dengan Abang”.
“Soal apa Rum, Rum katakan saja pada
Abang”.
“Rum hanya ingin memberitahu Abang
bahwa hari ini mungkin Rum pulangnya agak sore. Soalnya Rum memperoleh
panggilan untuk mengisi pengajian di Masjid Istiqlal”.
Sebenarnya,
aku sangat membenci pengajian. Apalagi dalam pengajian itu, istriku adalah
seorang penceramah. Hal ini berarti, perbuatan Rum sangat bertentangan dengan
strategi gereja. Namun bagaimana pun, aku harus memperlihatkan kepada Rum bahwa
agama kristen juga tidak memaksakan kehendak kepada penganut agama lain. Aku
berharap, suatu saat Rum akan sadar bahwa agama kristen adalah agama yang
paling benar.
“ Baiklah Rum, Abang tidak akan
melarang Rum. Namun Abang tetap berharap bahwa suatu saat Rum akan sadar bahwa
agama kristenlah yang paling benar”.
Tampaknya Rum
tersinggung dengan perkataanku, kulihat dengan jelas tatapan muka Rum yang
penuh dengan amarah.
“ Apa yang Abang
bicarakan, Abang ingin mengkristenkan Rum seperti yang telah Abang lakukan
kepada kaum muslim lainnya?, sekarang Abang dengarkan Rum Bang. Sejak kecil ,
ayah Rum telah mendidik Rum dengan sangat baik. Rum diperkenalkan dengan Allah,
Tuhan Yang Maha Esa. Yang menguasai seluruh alam semesta. Yang mengusai segala
sesuatu, Yang menghendaki terjadinya sesuatu. Termasuk pernikahan antara Rum
dan Abang. Abang harus tahu, alasan Rum tidak memberitahu hal ini kepada ayah
adalah karena Rum percaya bahwa Allah memiliki rahasia yang sangat baik untuk
Rum.”
Istriku sangat marah,
tidak terasa tetes-tetes air mata keluar dari matanya yang indah. Ku lihat
ketegasan dalam perkataan Rum bahwa ia tidak akan keluar dari agama islam.
Sejenak Rum terdiam, sepertinya ia menungguku untuk menjawab. Aku pun tak
berani menjawabnya. Nyaliku ciut seperti anak kecil yang sedang dimarah oleh
ibunya. Entah apa yang kutakutkan. Satu hal yang sangat jelas, aku tidak ingin
kehilangan Rum. Lalu kudengar Rum berbicara lagi, bahkan terpancar dengan jelas
dari matanya bahwa ia sangat kecewa kepada suaminya.
“Maaf Bang, kalau
kata-kata Rum akan menyinggung perasaan
Abang. Tapi Abang harus tahu bahwa islam adalah agama yang tegas. Islam sangat
mengutuk orang kafir yang ingin mengkafirkan umatnya. Saya sangat mencintai
Allah, para Rasul dan islam. Kini Abang hendak mengkristenkan saya, ketahuilah
Bang bahwa Rum lebih baik kehilangan Abang daripada harus kehilangan keyakinan
Rum. Besok setelah sholat subuh, saya mohon Abang berkenan mengantarkan saya ke
rumah ayah.”
Bagai ditampar
halilintar, aku sangat kaget dengan perkataan istriku. Aku tak menyangka bahwa
imannya begitu kuat. Di satu sisi, sejak kecil aku sudah dididik menjadi
seorang pengkabar injil dan membeci agama islam. Namun di sisi lain, aku sangat
mencintai istriku, aku ingin mempertahankan Rum. Dia adalah istri yang sangat
baik bagiku.
Keesokan harinya,
setelah sholat subuh, Rum memintaku untuk mengantarkan dia ke rumah orang
tuanya. Aku telah membulatkan tekad untuk mempertahankan Rum. Setelah semalaman
memikirkannya, akhirnya aku menemukan solusi yang menurutku solusi yang terbaik
bagiku dan Rum.
“Rum, Abang sangat
mencintai Rum. Abang mohon Rum tetap tinggal di sini menjadi istri Abang, Abang
sadar bahwa Rum adalah istri yang sangat baik kepada Abang”.
“Sampai kapan Bang?,
Apakah Rum harus tinggal dengan Abang sampai perasaan dan iman –islam Rum
hancur?”.
“Tidak Rum, tidak.
Abang tidak akan melakukan hal itu kepada Rum. Abang berjanji atas nama Tuhan
yang menciptakan seluruh alam semesta. Kau bebas dengan agamamu, bahkan kau
bebas membaca kitab sucimu Rum”.
Rum menatapku dengan
tajam. Tampak kecurigaan di wajahnya.
“Lalu, apa yang
menjadi bukti bahwa Abang tidak akan mengkristenkan Rum?. Jujur saja Bang, kepercayaan
Rum terhadap Abang mulai sirna. Abang telah banyak berdusta dengan Rum.”
“Rum, kitab sucimu
sebenarnya tidak hilang. Abang yang mengambilnya dari kamarmu waktu itu.
Semalam Abang sudah membacanya, Abang merasa sangat damai dan hati Abang
berkata bahwa isi dari kitabmu itu mutlak dan benar. Hanya saja Abang belum
sepenuhnya percaya bahwa Islam adalah agama yang benar. Abang akan menyelidiki
agama mana yang paling benar”.
“Baiklah, Rum percaya
dengan Abang. Tapi bagaimana kalau islamlah agama yang paling benar?”.
“Atas nama Tuhan yang
menciptakan cinta kita. Abang berjanji, jika islam adalah agama yang benar.
Abang akan menerima islam secara ikhlas sebagai agama Abang. Namun jika islam
adalah agama yang keliru, kamu akan masuk gereja”.
“Baiklah Bang, Rum
terima tantangan Abang. Abang harus menyelidiki seluruh aspek, terutama kitab
suci. Rum akan selalu berdoa agar Abang diberi petunjuk”
Sejak itu, aku mulai
membeli buku-buku islam. Aku meminta bantuan dari kedutaan Islam, bagian
penerangan kerajaan Islam Saudi Arabia. Aku pun mendatangi pondok-pondok
pesantren mulai dari Banyuwangi sampai Kediri. Bagiku, tak ada waktu untuk
mengerjakan hal lain selain belajar tentang perbandingan agama. Aku tidak akan
membohongi hati nurani dan tidak akan menutupi kebenaran.
Banyak sekali kebenaran hakiki yang aku jumpai dalam Al-Qur'an, semakin
lama semakin nampak kejanggalan-kejanggalan dalam Alkitab. Aku menemukan adanya
pertentangan antara ayat yang satu dengan ayat yang lainnya. Selain itu,
terdapat banyak ayat yang menceritakan pornografi dan mensifati Tuhan dengan sifat
yang mustahil. Kejanggalan-kejanggalan ini membuat keraguanku semakin besar
terhadap agama kristen. Hingga pada suatu malam, aku bermimpi sangat aneh. Aku
melihat menara gereja yang dikerubuti
burung-burung. Langit mendadak terbuka, para malaikat dan bidadari turun ke
bumi. Seorang bidadari itu menyerupai istriku dan bernyanyi dengan amat merdu.
Aku pun terbangun, nyanyian itu masih terdengar dengan jelas. Kulangkahkan kaki
menuju kamar Arum. Kulihat istriku sedang mengaji Kitab Suci Al-Quran.
“Bang, katanya Abang ingin bertemu Tuhan. Silakan Bang, inilah waktu yang
tepat untuk mengenal Allah, Tuhan seluruh alam semesta”.
Aku pun mengangguk lalu
melangkahkan kaki ke kamar mandi. Sesaat kemudian aku telah duduk di atas
sajadah yang biasa Arum pakai untuk sholat. Kutengadahkan tangan dan mulai
berdoa.
“Ya Tuhanku Yang menguasai seluruh alam semesta. Berilah aku
pertolonganmu. Jika Yesus itu adalah Tuhan, tetapkan hatiku. Akan tetapi jika
memang bukan, berilah petunjuk kepada siapa aku menyembah.”
Di luar masih hujan deras, diselingi petir yang menyambar-nyambar. Air
mataku berlinang dan badanku terasa menggigil. Kurasakan keringat dingin mengucur
di badanku. Terngiang olehku suara – suara dari para kiai dan ulama yang pernah
berdialog denganku. Seolah –olah suara itu mengatakan bahwa Islam adalah agama
yang benar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar