Senin, 11 November 2013

Cerpen Sang Pencari Tuhan



Sang Pencari Tuhan
Oleh: Sigit Winarso

          Teng...teng...teng...!.Suara lonceng jam dinding mengagetkan aku yang sedang tidur di sofa ruang tamu. Aku memang sengaja mengaturnya agar dapat bangun tengah malam. Dengan hati – hati, aku membuka pintu kamar istriku, kulihat dia  yang sedang tidur pulas. Aku berpikir kalau rencanaku untuk membuka kitab istriku akan berhasil. Arum dan aku baru dua bulan menikah, kami bertemu di pondok pesantren Al-Hikmah yang merupakan salah satu sasaran gereja. Dia adalah seorang muslim yang teguh pendiriannya, karena itu aku masih mencari-cari taktik yang tepat untuk membujuknya agar memeluk agama kristen. Biasanya saat tengah malam begini, istriku akan bangun dan mencuci tangan di kamar mandi. Anehnya, walaupun hanya mencuci tangan, wajah dan kakinya pun ikut dibasahi. Baru setelah itu, dia akan mengerjakan ibadah dan bertemu dengan Tuhannya. Sebelum rahasiaku terbongkar, Arum selalu mengajakku untuk ibadah juga.
          “Bang, bangun Bang, kita sholat tahajud bersama –sama. Rum perhatikan sejak kita menikah, Abang tidak pernah melakukan sholat malam”.
          “ Maafin Abang Rum, abang cuma merasa lelah jadi nggak pernah bisa bangun malam. Terima kasih ya Rum, Rum sudah bangunin Abang.
          “Sama-sama Bang, itu sudah menjadi tugas Rum untuk mengingatkan Abang. Kalau begitu, Rum tunggu di ruang sholat ya Bang”.
          “ Ya Rum. Abang mau ke kamar mandi sebentar, setelah itu Abang akan sholat bersama Rum”.
            Malam itu sebenarnya bukan pertama kali aku mengerjakan ibadahya orang islam. Aku pernah berkali-kali melakukannya di pondok pesantren. Namun ini pertama kalinya aku merasakan keanehan yang muncul dalam hatiku. Entah mengapa  aku merasa tentram dan damai saat sholat dengan istriku.
          Aku memang membohongi Rum soal keyakinan yang kupegang ketika kami pertama bertemu. Aku bahkan harus menyamar menjadi mualaf di pondok pesantren selama berbulan- bulan untuk meyakinkan dia bahwa aku adalah calon suami yang baik untuknya. Selain itu penyamaran ini juga bertujuan untuk mencari –cari kelemahan Islam. Sayangnya, kini Arum telah mengetahui semua itu. Tapi sepertinya ada yang aneh pada diri Arum. Walaupun ia mengetahui bahwa aku telah menipunya, tetap saja ia memperlakukanku sebagai suaminya dan mengerjakan tugas ibu rumah tangga dengan telaten. Dia juga tidak mengadu kepada Pak Kyai, ayahnya tentang semua ini. Aku akui bahwa hal inilah yang membuatku tidak tega untuk memaksanya untuk keluar dari agamanya. Namun bagaimanapun, kebenaran harus ditegakkan.
         Suara burung hantu yang bernyanyi memecahkan keheningan malam. Di luar, angin bertiup dengan kencangnya. Arum sudah dari tadi kembali ke kamarnya. Aku mengendap-endap menuju ruang tempat dia biasa beribadah. Ku lihat buku- buku agama yang tertata rapi di lemari buku. Diantara kitab-kitab itu, ada satu kitab yang mencuri perhatianku. Aku pun mengambilnya dan membawanya ke kamarku.
          Buku ini bertuliskan arab, hurufnya sangat indah. Mungkin buku inilah yang oleh para pemeluk Islam disebut Kitab Al-Quran. Aku pun mulai mempelajarinya dengan harapan akan mengetahui kekurangannya sehingga Islam dapat ditaklukan. Sebagai seorang yang berpengaruh di gereja, aku memang telah dilatih tentang seluruh hal yang berkaitan dengan islam. Oleh sebab itu, dengan mudahnya aku dapat membaca kita berbahasa arab ini. Aku pun membacanya, ada keanehan yang kurasakan ketika itu. Hatiku seperti memberontak dengan apa yang akan kulakukan terhadap Islam. Entah mengapa, hati kecilku mengatakan bahwa Al-Quran ini benar. Aku pun terbayang dengan kata-kata yang dilontarkan istriku ketika ia marah waktu itu.
          “Bang, Abang bilang dengan Rum kalau Abang sangat mencintai Rum. Mengapa Abang tega melakukan ini kepada keluarga Rum.Abang sudah berdusta kepada kami tentang keyakinan Abang”.
            Saat itu aku sangat kaget setengah mati. Seperti anak kecil yang mendengar suara guntur. Siapa yang memberitahu Rum tentang semua ini. Aku mulai berpikir bahwa rencana besarku akan gagal dan Rum pasti akan mengadukanku kepada ayahnya. Tapi jauh dilubuk hatiku, aku memang sangat mencintai istriku. Aku masih ingin mempertahankan Rum.
          “Rum, maafkan abang ya Rum. Abang tidak bermaksud untuk membohongi keluarga Rum. Abang hanya berpikir, kalau Abang berkata jujur soal keyakinan Abang. Abang yakin  kalau ayah Rum tidak akan merestui hubungan Rum dengan Abang”.
          “Bang, perlu Abang ketahui. Ayahku memang tidak akan merestui hubungan Rum dengan Abang. Karena di dalam islam, suami adalah pemimpin dan ayah Rum tidak menginginkan Rum dipimpin oleh seorang nonmuslim.Tapi ayahku tidak egois, Ia tidak pernah memaksakan kehendak kepada siapa pun. Termasuk soal keyakinan. Islam tidak pernah memaksa, Islam hanya menerima orang yang ingin memeluknya secara ikhlas dan tanpa paksaan dari siapa pun”.
            Setelah kejadian itu, kukira Rum akan mengadukanku kepada keluarganya. Namun setelah satu bulan, Rum tidak juga mengadukanku. Aku sangat kagum dengan Rum. Sampai     saat ini,kata-kata istriku itu masih kuingat dengan jelas. Islam tidak pernah memaksa orang untuk memelukanya. Berbeda dengan ajaran dalam Al-kitab, jelas sekali ada suatu perintah untuk mengkristenkan penganut agama lain. Aku tak tahu mengapa perasaanku menjadi sangat bimbang saat itu. Namun perasaanku itu segera ku tepis, aku sudah bertekad untuk mengkristenkan istriku.
            Hari masih pagi, langit sangat cerah dan matahari begitu hangatnya.Seperti biasanya, Arum menyiapkan sarapan untukku sebelum pergi mengajar. Namun tampaknya ada sesuatu yang ingin ia bicarakan denganku. Aku pun menunggunya untuk berbicara. Tak lama kemudian, ia pun mulai berbicara kepadaku.
            “Bang, ada sesuatu yang ingin Rum bicarakan dengan Abang”.
            “Soal apa Rum, Rum katakan saja pada Abang”.
            “Rum hanya ingin memberitahu Abang bahwa hari ini mungkin Rum pulangnya agak sore. Soalnya Rum memperoleh panggilan untuk mengisi pengajian di Masjid Istiqlal”.
            Sebenarnya, aku sangat membenci pengajian. Apalagi dalam pengajian itu, istriku adalah seorang penceramah. Hal ini berarti, perbuatan Rum sangat bertentangan dengan strategi gereja. Namun bagaimana pun, aku harus memperlihatkan kepada Rum bahwa agama kristen juga tidak memaksakan kehendak kepada penganut agama lain. Aku berharap, suatu saat Rum akan sadar bahwa agama kristen adalah agama yang paling benar.
            “ Baiklah Rum, Abang tidak akan melarang Rum. Namun Abang tetap berharap bahwa suatu saat Rum akan sadar bahwa agama kristenlah yang paling benar”.
Tampaknya Rum tersinggung dengan perkataanku, kulihat dengan jelas tatapan muka Rum yang penuh dengan amarah.
“ Apa yang Abang bicarakan, Abang ingin mengkristenkan Rum seperti yang telah Abang lakukan kepada kaum muslim lainnya?, sekarang Abang dengarkan Rum Bang. Sejak kecil , ayah Rum telah mendidik Rum dengan sangat baik. Rum diperkenalkan dengan Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Yang menguasai seluruh alam semesta. Yang mengusai segala sesuatu, Yang menghendaki terjadinya sesuatu. Termasuk pernikahan antara Rum dan Abang. Abang harus tahu, alasan Rum tidak memberitahu hal ini kepada ayah adalah karena Rum percaya bahwa Allah memiliki rahasia yang sangat baik untuk Rum.”
Istriku sangat marah, tidak terasa tetes-tetes air mata keluar dari matanya yang indah. Ku lihat ketegasan dalam perkataan Rum bahwa ia tidak akan keluar dari agama islam. Sejenak Rum terdiam, sepertinya ia menungguku untuk menjawab. Aku pun tak berani menjawabnya. Nyaliku ciut seperti anak kecil yang sedang dimarah oleh ibunya. Entah apa yang kutakutkan. Satu hal yang sangat jelas, aku tidak ingin kehilangan Rum. Lalu kudengar Rum berbicara lagi, bahkan terpancar dengan jelas dari matanya bahwa ia sangat kecewa kepada suaminya.
“Maaf Bang, kalau kata-kata Rum akan  menyinggung perasaan Abang. Tapi Abang harus tahu bahwa islam adalah agama yang tegas. Islam sangat mengutuk orang kafir yang ingin mengkafirkan umatnya. Saya sangat mencintai Allah, para Rasul dan islam. Kini Abang hendak mengkristenkan saya, ketahuilah Bang bahwa Rum lebih baik kehilangan Abang daripada harus kehilangan keyakinan Rum. Besok setelah sholat subuh, saya mohon Abang berkenan mengantarkan saya ke rumah ayah.”
Bagai ditampar halilintar, aku sangat kaget dengan perkataan istriku. Aku tak menyangka bahwa imannya begitu kuat. Di satu sisi, sejak kecil aku sudah dididik menjadi seorang pengkabar injil dan membeci agama islam. Namun di sisi lain, aku sangat mencintai istriku, aku ingin mempertahankan Rum. Dia adalah istri yang sangat baik bagiku. 
Keesokan harinya, setelah sholat subuh, Rum memintaku untuk mengantarkan dia ke rumah orang tuanya. Aku telah membulatkan tekad untuk mempertahankan Rum. Setelah semalaman memikirkannya, akhirnya aku menemukan solusi yang menurutku solusi yang terbaik bagiku dan Rum.
“Rum, Abang sangat mencintai Rum. Abang mohon Rum tetap tinggal di sini menjadi istri Abang, Abang sadar bahwa Rum adalah istri yang sangat baik kepada Abang”.
“Sampai kapan Bang?, Apakah Rum harus tinggal dengan Abang sampai perasaan dan iman –islam Rum hancur?”.
“Tidak Rum, tidak. Abang tidak akan melakukan hal itu kepada Rum. Abang berjanji atas nama Tuhan yang menciptakan seluruh alam semesta. Kau bebas dengan agamamu, bahkan kau bebas membaca kitab sucimu Rum”.
Rum menatapku dengan tajam. Tampak kecurigaan di wajahnya.
“Lalu, apa yang menjadi bukti bahwa Abang tidak akan mengkristenkan Rum?. Jujur saja Bang, kepercayaan Rum terhadap Abang mulai sirna. Abang telah banyak berdusta dengan Rum.”
“Rum, kitab sucimu sebenarnya tidak hilang. Abang yang mengambilnya dari kamarmu waktu itu. Semalam Abang sudah membacanya, Abang merasa sangat damai dan hati Abang berkata bahwa isi dari kitabmu itu mutlak dan benar. Hanya saja Abang belum sepenuhnya percaya bahwa Islam adalah agama yang benar. Abang akan menyelidiki agama mana yang paling benar”.
“Baiklah, Rum percaya dengan Abang. Tapi bagaimana kalau islamlah agama yang paling benar?”.
“Atas nama Tuhan yang menciptakan cinta kita. Abang berjanji, jika islam adalah agama yang benar. Abang akan menerima islam secara ikhlas sebagai agama Abang. Namun jika islam adalah agama yang keliru, kamu akan masuk gereja”.
“Baiklah Bang, Rum terima tantangan Abang. Abang harus menyelidiki seluruh aspek, terutama kitab suci. Rum akan selalu berdoa agar Abang diberi petunjuk”
Sejak itu, aku mulai membeli buku-buku islam. Aku meminta bantuan dari kedutaan Islam, bagian penerangan kerajaan Islam Saudi Arabia. Aku pun mendatangi pondok-pondok pesantren mulai dari Banyuwangi sampai Kediri. Bagiku, tak ada waktu untuk mengerjakan hal lain selain belajar tentang perbandingan agama. Aku tidak akan membohongi hati nurani dan tidak akan menutupi kebenaran.
Banyak sekali kebenaran hakiki yang aku jumpai dalam Al-Qur'an, semakin lama semakin nampak kejanggalan-kejanggalan dalam Alkitab. Aku menemukan adanya pertentangan antara ayat yang satu dengan ayat yang lainnya. Selain itu, terdapat banyak ayat yang menceritakan  pornografi dan mensifati Tuhan dengan sifat yang mustahil. Kejanggalan-kejanggalan ini membuat keraguanku semakin besar terhadap agama kristen. Hingga pada suatu malam, aku bermimpi sangat aneh. Aku melihat  menara gereja yang dikerubuti burung-burung. Langit mendadak terbuka, para malaikat dan bidadari turun ke bumi. Seorang bidadari itu menyerupai istriku dan bernyanyi dengan amat merdu. Aku pun terbangun, nyanyian itu masih terdengar dengan jelas. Kulangkahkan kaki menuju kamar Arum. Kulihat istriku sedang mengaji Kitab Suci Al-Quran.
“Bang, katanya Abang ingin bertemu Tuhan. Silakan Bang, inilah waktu yang tepat untuk mengenal Allah, Tuhan seluruh alam semesta”.
Aku pun mengangguk  lalu melangkahkan kaki ke kamar mandi. Sesaat kemudian aku telah duduk di atas sajadah yang biasa Arum pakai untuk sholat. Kutengadahkan tangan dan mulai berdoa.
“Ya Tuhanku Yang menguasai seluruh alam semesta. Berilah aku pertolonganmu. Jika Yesus itu adalah Tuhan, tetapkan hatiku. Akan tetapi jika memang bukan, berilah petunjuk kepada siapa aku menyembah.”
Di luar masih hujan deras, diselingi petir yang menyambar-nyambar. Air mataku berlinang dan badanku terasa menggigil. Kurasakan keringat dingin mengucur di badanku. Terngiang olehku suara – suara dari para kiai dan ulama yang pernah berdialog denganku. Seolah –olah suara itu mengatakan bahwa Islam adalah agama yang benar.

Tidak ada komentar: